Di Indonesia seseorang yang memilih untuk
menjadi single terkadang malah sering dipandang sebelah mata bahkan di bully
oleh teman-temannya. Fenomena mem-bully orang yang single atau jomblo sudah
bukan menjadi hal yang tabu lagi, bahkan hampir terjadi di mana pun dan di
semua lapisan masyarakat. Mulai dari sekolah, kampus, tempat kerja dan lain-lain. Orang-orang yang
mem-bully pun juga bervariatif, mulai dari teman dekat, teman kerja, tetangga,
bahkan keluarga sendiri. Ada
sebagian dari mereka yang mengatakan kalau single dengan jomblo itu berbeda,
single itu adalah prinsip kalau jomblo cenderung ke nasib. Tapi ada yang perlu
anda ketahui kalau single dengan jomblo justru lebih banyak kesamaannya
daripada perbedaannya. Sebagian orang juga mengklaim bahwa dirinya single bukan
jomblo demi gengsi semata. Lalu apakah kita harus malu kalau memang
kenyataannya kita memang tidak memiliki pasangan? Apakah kita harus memiliki
pasangan demi untuk menghindari rasa malu tersebut?
Menjalani suatu hubungan atau relationship
harus didasari dengan niat dan ketulusan yang kuat dari kedua belah pihak.
Bukan hanya itu, kita juga harus membangun suatu relasi atau chemistry diantara
kedua belah pihak. Karena pada hakikatnya cinta adalah saling mengerti. Lalu
apa jadinya jika suatu hubungan hanya didasari oleh rasa gengsi, malu, dan
takut di bully? Tidak seharusnya
seorang yang single malu akan statusnya karena di bully. Banyak diantara mereka
yang mempunyai prinsip memilih untuk menjadi single tapi ditengah jalan mereka
malah merubah prinsip nya karena hasutan dan desakan dari teman-temannya. Namun
ada juga mereka yang single bukan karena pilihan atau prinsip namun mereka
single dikarenakan keadaan yang menuntut mereka harus menjadi single, tetapi
pada akhirnya mereka malah menemukan jalan hidup mereka masing-masing dan
mencapai titik kenyamanan untuk menjadi single.
Tidak seharusnya kita malu karena status
kita yang single. Di luar negeri seperti Eropa dan Amerika pilihan untuk
menjadi single malah sangat dihormati. Pada dasarnya mereka memiliki kebudayaan
yang berbeda dengan kita. Mereka memilih untuk menjadi single dengan alasan tertentu,
ketika mereka merasa belum siap untuk
menjalani suatu hubungan atau rumah tangga dikarenakan faktor ekonomi atau
psikologis mereka akan tetap memilih untuk menjadi single. Namun hanya sebagian
kecil orang yang memiliki prinsip seperti itu jika kita melihat dari cara hidup
mereka yang Liberal. Bagi mereka mempunyai prinsip untuk menjadi single
merupakan pilihan yang sangat sulit, maka dari itu pilihan menjadi single
diluar negeri sangat dihormati. Lalu bagaimana jika kita membandingkan dengan
keadaan di Indonesia?
Bagi orang-orang di Negara kita single sama dengan tidak laku tidak selamanya
itu benar.
Mereka yang memiliki pasangan sangat
berbangga diri dengan pasangan mereka masing-masing dan mengejek teman mereka
yang single. Namun apakah mereka yang memiliki pasangan itu selamanya bahagia
dengan pasangannya? Banyak dari mereka yang sebelumnya membanggakan pasangannya
namun pada akhirnya diselingkuhi, ditikung, dan putus tanpa sebab dengan
pacarnya. Orang yang mempunyai pacar juga cenderung akan memilih pacarnya
daripada teman dekatnya, namun ketika mereka memiliki masalah dengan pacarnya
mereka pasti curhat dan kembali sama teman dekatnya. Coba kita bandingkan sama
single, mereka pasti jauh sama yang namanya galau karena pasangan karena mereka
memang tidak punya dan pasti mereka lebih punya banyak waktu buat sama
teman-teman dekatnya. Single itu
tidak seburuk yang kalian pikirkan kok, so jangan takut jadi single.
Postingannya keren :)
BalasHapus